SULAWESI SELATAN — Polda Banten menjadi wilayah dengan kontribusi terbesar dalam program Jembatan Merah Putih Presisi. Dari total nasional tersebut, 145 unit jembatan berdiri di provinsi ujung barat Pulau Jawa itu, membentang sepanjang 3 kilometer dan menyambung akses menuju 203 desa.
"Hal ini menjadikan Banten sebagai Polda dengan jumlah pembangunan dan revitalisasi Jembatan Merah Putih Presisi terbanyak di antara Polda lainnya," ujar Sigit saat peresmian 3.395 jembatan TNI-Polri dan 3.000 sumber air bersih secara virtual, Kamis (13/8/2026).
874 Jembatan Tuntas, 17 Unit Masih Dikerjakan
Dari 895 jembatan yang direncanakan, progres fisik menunjukkan 874 unit telah rampung. Sisanya, 17 jembatan masih dalam tahap pembangunan dan empat unit lainnya masih dalam perencanaan.
Jembatan yang sudah difungsikan itu memberikan dampak langsung bagi mobilitas warga. Kelompok yang merasakan manfaat terbanyak adalah anak sekolah, petani, pedagang, pekerja, dan pelaku UMKM yang selama ini bergantung pada akses desa yang terisolasi.
Manfaat Ekonomi di Banten: 500.000 Jiwa Terlayani
Di Banten, proyek ini tidak sekadar membangun infrastruktur penghubung antarwilayah. Kepala Kepolisian RI menyebut sekitar 500.000 jiwa menjadi penerima manfaat dari 145 jembatan yang tersebar di wilayah hukum Polda setempat.
Jembatan tersebut memangkas jarak tempuh warga yang sebelumnya harus memutar jauh untuk menyeberangi sungai atau jalur terputus. Konsekuensinya, biaya logistik hasil pertanian dan kegiatan ekonomi harian di 203 desa diproyeksikan turun signifikan.
Program Nasional TNI-Polri: 3.395 Jembatan dan 3.000 Sumber Air
Program Jembatan Merah Putih Presisi merupakan bagian dari kerja kolaboratif TNI-Polri yang diresmikan serentak. Total keseluruhan yang diresmikan mencakup 3.395 unit jembatan dan 3.000 sumber air bersih yang dibangun di berbagai daerah.
Sigit menginstruksikan agar jajaran kewilayahan tidak berhenti pada seremonial peresmian. Ia meminta warga dan pemerintah daerah setempat turut merawat infrastruktur yang telah dibangun agar usia pakainya panjang dan manfaatnya berkelanjutan.
Perhatian khusus diberikan pada kualitas konstruksi. Mengingat pembangunan dilakukan secara swadaya, pengawasan teknis tetap mengacu pada standar yang berlaku agar jembatan mampu dilintasi kendaraan roda dua maupun roda empat secara aman.