SULAWESI SELATAN — Pakar otomotif Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menegaskan bahwa pergeseran ini bukan sekadar tren pemasaran. “Sekarang itu makin banyak produsen yang merakit mobil pakai material daur ulang karena adanya tekanan struktural berupa regulasi sustainable development goals yang sangat ketat,” ujarnya saat dihubungi Kamis (4/6).
Menurut Yannes, tekanan itu datang dari dua sisi sekaligus: regulasi Uni Eropa yang kini menjadi standar global, dan permintaan pasar dari konsumen di negara-negara besar. Produsen tidak punya pilihan selain mengubah rantai pasok mereka.
Pelopor dari Eropa dan AS: Volvo, BMW, hingga Ford
Sepanjang satu dekade terakhir, pabrikan asal Benua Biru dan Amerika Serikat menjadi motor utama perubahan ini. Yannes menyebut Volvo, BMW, Ford, Renault, Volkswagen, dan Audi secara aktif meningkatkan porsi konten daur ulang di interior, bodi, dan komponen kendaraan.
Material yang paling potensial untuk didaur ulang adalah plastik dan baja. “Material paling potensial adalah recycled plastik dan steel,” kata Yannes. Kedua bahan ini menjadi fondasi utama dalam upaya produsen menekan jejak karbon di lini produksi.
Hyundai Ioniq 6: Jala Pancing Bekas Jadi Karpet Mobil
Kini giliran pabrikan Asia yang ikut bergerak. Hyundai, misalnya, menerapkan material daur ulang pada mobil listrik Ioniq 6 secara ekstensif. Plafon atau headliner mobil ini dibuat dari bio-pete yang diekstraksi dari tebu.
Yang lebih menarik, jala pancing bekas diolah menjadi bahan karpet dan alas dasar kabin. Sementara itu, pelapis jok dibuat dari kombinasi plastik daur ulang dan tebu, dengan minyak dari ekstrak bunga dan jagung sebagai bahan baku pengganti kulit sintetis konvensional.
China Kuasai Daur Ulang Baterai, Pemulihan Litium Capai 96,5 Persen
Perkembangan material daur ulang tidak berhenti pada interior. China kini menjadi pemain utama daur ulang baterai kendaraan listrik. Negara tersebut menerbitkan aturan ketat bertajuk “Interim Measures for the Management of Recycling and Comprehensive Utilization of Retired Power Batteries of NEVs” yang berlaku sejak 1 April.
Aturan ini mewajibkan baterai bekas tetap melekat pada kendaraan saat dibongkar, demi mengendalikan alur peredaran limbah. Pada Oktober 2025, sejumlah perusahaan lokal China dilaporkan mampu memulihkan 96,5 persen litium serta 99,6 persen nikel, kobalt, dan mangan dari baterai bekas.
Lembaga riset di China memperkirakan jumlah baterai bekas akan mencapai 1 juta ton pada 2030. Jika tidak ditangani dengan benar, limbah ini menjadi ancaman serius bagi lingkungan.