SULAWESI SELATAN — Episode perdana "Lanterns" telah tayang di HBO dan HBO Max, dan hasilnya melampaui ekspektasi. Setelah film "Supergirl" gagal di box office, tekanan besar sempat tertuju pada serial ini untuk menjaga reputasi DCU. Kabar baiknya, "Lanterns" sukses besar dan membuktikan bahwa visi James Gunn untuk jagat sinematik DC masih aman.
Serial ini terasa seperti kelanjutan spiritual dari "Watchmen" (2019) arahan Damon Lindelof. Nuansa gelap, sinematografi sinematik, dan pendekatan grounded pada karakter superhero menjadi daya tarik utamanya. Ini bukan sekadar adaptasi komik, melainkan drama karakter yang kebetulan memiliki cincin luar angkasa.
Dua Lantern, Tiga Linimasa, Satu Misteri
Premiere "Lanterns" membentang di tiga periode waktu berbeda: 1996, 2016, dan 2026. Kita diperkenalkan pada John Stewart kecil yang menyaksikan Hal Jordan mengungkap identitasnya sebagai Green Lantern kepada dunia. Cerita utama berfokus pada tahun 2016, saat Hal melatih John sebagai penerusnya, sebuah proses yang diwarnai konflik mentor-mentee yang tegang.
Ketegangan itu dikesampingkan ketika keduanya dikirim ke Nebraska untuk menyelidiki penembakan massal yang korbannya ternyata alien. Adegan interogasi Hal terhadap tersangka alien menjadi puncak episode ini, berujung pada ledakan bom bunuh diri yang nyaris memakan korban. Alien tersebut hanyalah pengintai, dan pertemuan dengan William Macon, tokoh yang tampaknya jahat, menandakan invasi besar akan segera datang.
Aksi Cincin yang Memuaskan
Salah satu kekhawatiran terbesar sebelum serial tayang adalah minimnya penggunaan cincin kekuatan. Kekhawatiran itu terbukti salah. Episode perdana menampilkan konstruksi energi hijau yang ikonik dan momen menegangkan saat Hal menahan ledakan dahsyat dengan kekuatan cincinnya. Aksi ini dibalut dengan baik dalam narasi yang tetap terasa realistis dan membumi.
Keseimbangan antara elemen fiksi ilmiah dan drama manusia inilah yang membuat "Lanterns" terasa segar. Ini bukan sekadar pesta visual, melainkan cerita tentang dua pria dengan beban masa lalu yang berbeda, mencoba melindungi bumi dari ancaman yang tidak diketahui publik.
Kekuatan Karakter dan Catatan Kecil
Chemistry antara Kyle Chandler (Hal Jordan) dan Aaron Pierre (John Stewart) adalah jantung serial ini. Pierre berhasil menampilkan sisi rumit John, termasuk hubungannya dengan ayahnya dan satu malam bersama istri William Macon. Sementara itu, Chandler menghadirkan Hal yang lelah dan berada di ambang krisis paruh baya, memberikan kedalaman pada karakter yang sinis.
Namun, ada satu catatan kecil mengenai pemilihan usia pemeran. Beberapa karakter yang seharusnya berbeda generasi terlihat seusia. Ini bukan masalah besar dan tidak mengganggu alur cerita, tetapi cukup terlihat bagi penonton yang jeli terhadap detail.
Kesimpulan: Wajib Tonton
"Lanterns" adalah contoh bagaimana adaptasi superhero seharusnya dibuat. Episode perdana ini berhasil membangun misteri invasi alien yang bikin penasaran sambil mengembangkan dua karakter utamanya dengan baik. Untuk penggemar DC, Damon Lindelof, atau siapa pun yang mencari serial drama fiksi ilmiah berkualitas, "Lanterns" adalah tontonan wajib.
Dengan tujuh episode tersisa, serial ini memiliki banyak ruang untuk mengeksplorasi nasib Hal Jordan dan memperkenalkan ancaman yang lebih besar. Jika kualitasnya dipertahankan, posisi James Gunn sebagai kepala DC Studios tidak akan goyah, dan "Lanterns" akan menjadi fondasi kuat bagi masa depan DCU.