SULAWESI SELATAN - Sebanyak tujuh desa wisata di Sulawesi Selatan masuk dalam daftar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024, dengan penilaian berdasarkan daya tarik, amenitas, digitalisasi, kelembagaan, sumber daya manusia, dan resiliensi.
Menurut Kementerian Pariwisata melalui Jejaring Desa Wisata atau JADESTA, indikator tersebut digunakan untuk menentukan desa wisata terbaik, tidak hanya berdasarkan popularitas semata.
Berikut adalah desa-desa wisata dengan pencapaian dan karakteristik unik yang tercatat dalam ADWI 2024, lengkap dengan data teknisnya:
Rammang-Rammang, Maros: Karst, Sungai, dan Prasejarah
Desa wisata ini masuk 75 Besar ADWI 2023 dan berstatus "Berkembang" di data JADESTA. Keunggulannya terletak pada bentang alam karst yang dipadukan dengan sungai, persawahan, dan perkampungan, mencakup Kampung Berua, Kampung Laku, serta Kampung Massaloeng.
Aktivitas utama adalah susur sungai menggunakan perahu jolloro, melewati pepohonan nipah dan bakau serta celah-celah batu karst. Kampung Massaloeng juga mempertahankan kesenian tradisional dan situs gua prasejarah.
Desa Wisata Andalan, Bulukumba: Peraih Juara 3 Kategori Suvenir
Terletak di Lembanna, Kecamatan Bontobahari, desa ini masuk 75 Besar ADWI 2023 dan berkategori Maju. Daya tarik utamanya meliputi Tebing Batu Tongkarayya, Pantai Mandala Ria, Tebing Mattoanging, dan Gua Purbakala Passea.
Pada ADWI 2023, desa ini meraih Juara 3 kategori Suvenir, dengan produk kreativitas masyarakat seperti miniatur Pinisi, Tari Salonreng, dan Pakkarena.
Desa Wisata Ara, Bulukumba: Alam dan Tradisi Pinisi
Desa Ara, juga di Kecamatan Bontobahari, tercatat masuk 50 Besar ADWI 2021. Potensi alamnya mencakup Tebing Apparalang, Pantai Mandala Ria, dan Gua Passohara, sementara budaya lokalnya meliputi pembuatan perahu Pinisi, seni ukir Anjong dan Teba, serta Tari Salonreng Ara.
Desa Wisata Mattabulu, Soppeng: Dataran Tinggi dan Hutan Pinus
Desa ini masuk 50 Besar ADWI 2024 dan berada di ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl). Daya tariknya meliputi hutan pinus Lembah Cinta, area camping, outbound, kopi lokal, pengolahan gula aren, serta Air Terjun Liu Pangie.
Selain alam, Mattabulu memiliki situs sejarah dan kesenian tradisional, menawarkan pengalaman wisata yang tidak hanya bergantung pada lanskap.
Desa Wisata Latimojong, Enrekang: Tantangan Gunung
Lokasinya di Kecamatan Buntu Batu, masuk 500 Besar ADWI 2024, dan berada di kaki Gunung Latimojong yang tingginya sekitar 3.478 mdpl. Daya tariknya meliputi camping ground, water tubing, trekking, air terjun, dan kolam renang alami, plus budaya seperti musik bambu, Mangdodo, dan pengolahan kopi.
Karakter Latimojong cocok untuk wisatawan yang menyukai aktivitas luar ruang dan menantang secara fisik.
Desa Wisata Bontomarannu, Kepulauan Selayar: Puncak Tanadoang
Desa ini menawarkan Puncak Tanadoang sebagai daya tarik utama, dengan area camping ground sekitar dua hektare. JADESTA mencatat fasilitasnya termasuk homestay, toilet, ruang pertemuan, tempat ibadah, mini restoran, dan toko suvenir.
Panduan Memilih dan Dampak Ekonomi
Tidak ada satu desa wisata yang otomatis cocok untuk semua wisatawan. Pilihan sebaiknya disesuaikan dengan tujuan perjalanan: Rammang-Rammang untuk pencinta karst dan sejarah, Andalan serta Ara untuk pantai dan tradisi Pinisi, Mattabulu untuk dataran tinggi, Latimojong untuk pegunungan, dan Bontomarannu untuk perbukitan.
Jarak tempuh dan ketersediaan transportasi juga penting, karena desa wisata sering berada jauh dari pusat kota.
Desa wisata memberikan dampak positif melalui keterlibatan masyarakat lokal, seperti pengelolaan homestay, kuliner, pemandu, kerajinan, hingga paket wisata. Rammang-Rammang, misalnya, mencatat perputaran ekonomi yang bermanfaat bagi pengelola dan warga.
Keberlanjutan menjadi kunci saat jumlah wisatawan meningkat. Wisatawan dapat berkontribusi dengan memilih produk lokal, menggunakan jasa masyarakat setempat, dan menjaga kebersihan destinasi.