MAKASSAR — Di tengah hiruk-pikuk industri pariwisata Bali, nama Sri Santi mencuat sebagai pengusaha sukses di bidang fesyen dan souvenir. Perempuan asal Sulawesi Selatan ini memulai usahanya dari nol dan kini produk baju adat serta cendera matanya telah merambah pasar internasional.
Produk yang dihasilkan Sri Santi bukan sekadar kain atau busana biasa. Ia mengolah kain tradisional menjadi souvenir modern bernilai seni tinggi, mulai dari miniatur baju adat, aksesori, hingga pakaian siap pakai yang sarat muatan budaya Indonesia.
Permintaan datang tidak hanya dari wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Bali, tetapi juga dari pembeli di luar negeri melalui platform digital. Negara tujuan ekspor meliputi Belanda, Jerman, hingga Amerika Serikat.
Sri Santi mengaku memulai bisnisnya dengan modal terbatas dan keyakinan kuat. Tantangan terbesar adalah mengedukasi pasar luar negeri tentang nilai filosofis di balik setiap motif dan desain baju adat yang ia jual.
"Saya ingin produk ini bukan hanya dilihat sebagai barang, tapi juga cerita tentang Indonesia. Setiap jahitan dan motif punya makna," ujarnya saat ditemui di sela pameran UMKM di Bali, pekan lalu.
Kesuksesan Sri Santi tak lepas dari pemanfaatan media sosial dan marketplace untuk menjangkau pembeli global. Ia juga aktif dalam komunitas UMKM perempuan di Bali yang saling mendukung dalam pemasaran dan distribusi.
Menurutnya, pasar internasional sangat menghargai produk yang autentik dan dibuat secara handmade. Hal ini menjadi nilai jual utama yang tidak bisa ditiru oleh produk massal pabrikan.
Kisah Sri Santi diharapkan menjadi inspirasi bagi pelaku UMKM di daerah, khususnya di Sulawesi Selatan, untuk berani menembus pasar ekspor. Ia menekankan pentingnya inovasi tanpa meninggalkan akar budaya lokal.
"Jangan takut memulai dari kecil. Yang penting konsisten dan percaya pada produk sendiri. Pasar dunia butuh cerita kita," tutupnya.