GOWA — Sejumlah tokoh adat di Kabupaten Gowa memberikan dukungan moral kepada Husniah Talenrang, figur yang disebut-sebut bakal memimpin di daerah tersebut. Dukungan itu disampaikan dalam silaturahmi yang menekankan pentingnya nilai-nilai budaya lokal dalam kepemimpinan. Pertemuan berlangsung di kediaman tokoh adat setempat dan dihadiri oleh puluhan perwakilan komunitas adat.
Dukungan dari tokoh adat tidak bersifat seremonial. Dalam pertemuan itu, para tetua adat menyampaikan bahwa pemimpin harus menjunjung tinggi siri’ na pacce, prinsip dasar masyarakat Bugis-Makassar yang menekankan harga diri dan solidaritas. Husniah Talenrang disebut sebagai figur yang memahami nilai tersebut.
“Kami tidak bicara soal jabatan. Kami bicara soal amanah. Siapa pun pemimpinnya, dia harus menjaga martabat adat dan rakyatnya,” ujar salah satu tokoh adat yang hadir dalam pertemuan tersebut.
Langkah para tokoh adat ini muncul di tengah peta politik Sulawesi Selatan yang mulai memanas jelang kontestasi daerah. Dukungan moral dari komunitas adat kerap menjadi pengungkit elektoral, terutama di daerah yang masih kuat memegang tradisi. Gowa, sebagai bekas pusat Kerajaan Gowa-Tallo, memiliki pengaruh adat yang signifikan terhadap preferensi politik warganya.
Husniah Talenrang sendiri belum secara resmi mendeklarasikan diri. Namun, pertemuan dengan tokoh adat ini menjadi indikasi bahwa ia mulai membangun basis dukungan dari akar rumput.
Dalam tradisi politik lokal di Gowa, restu dari tokoh adat bukan sekadar formalitas. Mereka kerap menjadi penjaga nilai yang memastikan calon pemimpin tidak sekadar populer, tetapi juga punya rekam jejak menjaga harmoni sosial. Pertemuan ini menegaskan bahwa Husniah Talenrang dianggap memenuhi kriteria tersebut.
Para tokoh adat juga menyinggung pentingnya pemimpin yang hadir saat masyarakat adat menghadapi persoalan lahan dan pelestarian budaya. Dukungan ini, menurut mereka, akan dicabut jika pemimpin yang didukung melenceng dari nilai adat.
Pengamat politik lokal menilai dukungan tokoh adat di Gowa bisa menjadi pembeda dalam kontestasi. Di daerah yang masih memegang hierarki adat, restu dari kajao laliddong atau tetua adat seringkali lebih berpengaruh dari pada survei elektoral. “Ini modal sosial yang tidak bisa dibeli dengan uang,” kata seorang akademisi Universitas Hasanuddin yang enggan disebut namanya.
Husniah Talenrang dijadwalkan akan melanjutkan pertemuan dengan kelompok adat di dua kecamatan lain dalam waktu dekat. Langkah ini menjadi strategi pengerasan basis sebelum pengumuman resmi pencalonan.