SULAWESI SELATAN — Kepala SKK Migas Djoko Siswanto membeberkan kondisi pahit industri hulu migas dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XII DPR, Kamis (4/6/2026). Blok Rokan, yang ditargetkan menyumbang 163.000 bph, hanya mampu merealisasikan 130.000 bph. Artinya, ada kekosongan sekitar 32.000 bph atau hanya 80 persen dari target.
Nasib serupa menimpa Blok Cepu yang dikelola ExxonMobil. Djoko menjelaskan, masalah utama terletak pada reservoir alami. “Dari pemboran yang dilakukan, penurunan minyaknya begitu cepat dan yang keluar saat ini kebanyakan air dan gas,” ujarnya dalam rapat yang dikutip Kamis (4/6).
Penurunan lifting nasional sebenarnya sudah terasa sejak awal tahun. SKK Migas mencatat rangkaian kendala teknis menghantam operasional di lapangan. Pada Januari 2026, produksi tujuh kontraktor kontrak kerja sama (K3S) lumpuh total akibat insiden pipa putus.
Belum pulih dari gangguan pipa, operasional Blok Rokan kembali terhenti akibat pemadaman listrik (blackout) pada sistem kelistrikan PLN. Kondisi ini diperparah oleh jadwal perawatan fasilitas hulu migas (maintenance) yang sengaja ditumpuk di kuartal I dan II tahun ini.
Djoko mengungkapkan, penumpukan itu merupakan buntut dari kebijakan tahun lalu. “Memang maintenance pada kuartal 1 dan kuartal 2 ini dilakukan seluruhnya karena pada tahun lalu ada surat edaran untuk menahan maintenance demi mencapai target 605.000 bph pada tahun lalu,” jelasnya.
Meski realisasi masih di bawah target, SKK Migas memasang sikap optimistis. Pihaknya memproyeksikan produksi akhir tahun bisa dikerek ke level 600.000 hingga 610.000 bph melalui program darurat Filling the Gap. Salah satu andalannya adalah strategi Triple 100 yang ditargetkan menambah 5.000 bph, namun realisasi saat ini baru mencapai 200 bph.
Program lain yang diandalkan adalah optimalisasi sumur tua berdasarkan Peraturan Menteri ESDM Nomor 14 Tahun 2025. Skema ini melibatkan koperasi dan UMKM dengan potensi tambahan 20.000 bph, namun realisasi baru menyentuh 1.500 bph.
“Kita masih ada waktu 7 bulan ke depan untuk mencapai filling the gap ini. Kami juga memproyeksikan pada 2027 mendatang produksi bisa merangkak naik ke kisaran 610.000 sampai 615.000 bph,” pungkas Djoko.