SULAWESI SELATAN — Masalah ini bermula dari mesin V6 twin-turbo 3.4 liter yang menggantikan V8 legendaris pada generasi ketiga Tundra. Mesin anyar ini dirancang untuk menyaingi kompetitor dari segi tenaga dan efisiensi, namun justru dihantui oleh masalah klasik: serpihan logam sisa produksi (swarf) yang lolos ke dalam mesin.
Menurut dokumen recall yang diajukan Toyota ke NHTSA, tekanan internal dan toleransi yang sangat ketat pada mesin baru ini membuat serpihan logam yang tadinya tidak berbahaya kini menjadi bom waktu. Serpihan yang menempel pada main bearing nomor satu bisa menyebabkan bearing tersebut berputar (spun bearing) dan menghancurkan mesin.
Toyota sudah dua kali melakukan recall dan mengganti ribuan mesin secara gratis. Namun, upaya membersihkan proses perakitan di pabrik Alabama tidak sepenuhnya berhasil. Pengujian terbaru pada bulan Mei lalu menunjukkan pola keausan yang sama pada mesin yang sudah diperbaiki.
Untuk mengatasi tekanan yang menumpuk (pressure stack-up), Toyota melakukan dua perubahan teknis. Pertama, mengubah clearance pada rumah camshaft untuk mengurangi tekanan internal. Kedua, mengganti main bearing nomor satu dengan versi yang lebih tahan terhadap kontaminasi.
Sejauh ini, mesin yang diproduksi dengan bearing baru belum menunjukkan gejala kegagalan yang sama. Namun, Toyota masih enggan menyebut ini sebagai solusi final. Masalahnya, pola kerusakan sangat bervariasi—ada yang mogok di bawah 10.000 km, ada pula yang bertahan hingga 200.000 km.
Menariknya, varian hybrid Tundra dan Sequoia yang menggunakan mesin sama tidak termasuk dalam recall resmi. Toyota beralasan bahwa secara teknis, kendaraan hybrid masih bisa melaju dengan tenaga listrik saat mesin mati mendadak, sehingga tidak dianggap sebagai risiko keselamatan langsung.
Pemilik hybrid hanya akan dilindungi selama masa garansi powertrain (5 tahun/60.000 mil). Setelah itu, risiko kerusakan mesin ditanggung sendiri. Keluhan pemilik yang dealer tolak klaim garansi pun mulai banyak bertebaran di forum dan media sosial.
Ini bukan sekadar masalah teknis. Toyota membangun reputasi selama puluhan tahun di atas keandalan mesin V8 yang nyaris tanpa cela. Keputusan berani beralih ke V6 turbo kini berbalik menjadi krisis kepercayaan.
Meski secara volume recall Toyota masih lebih rendah dibanding Ford atau GM secara keseluruhan, kasus Tundra berbeda karena menyangkut jantung dari produk andalan mereka. Selama proses perbaikan belum tuntas dan ribuan truk masih menunggu mesin baru di bengkel, bayang-bayang masalah ini akan terus menghantui citra Toyota sebagai pabrikan paling andal di dunia.