SULAWESI SELATAN — Rizki Juniansyah akan tampil di kelas 85 kg putra pada Asian Games 2026 di Jepang. Keputusan naik kelas dari 73 kg ini diambil bukan tanpa alasan, melainkan untuk mengisi slot yang ditinggalkan seniornya, Rahmat Erwin Abdullah.
Atlet berusia 23 tahun itu menyatakan kesiapannya usai menjalani pemulihan cedera bahu yang dialaminya bulan lalu. Ia mengaku kondisi fisiknya telah kembali seratus persen dan siap bertanding maksimal di ajang multicabang tersebut.
Perpindahan kelas ini merupakan hasil kesepakatan tim pelatih. Dalam aturan Asian Games, satu negara hanya bisa menurunkan satu lifter di masing-masing kelas.
"Di Asian Games 2023 memang saya tidak main karena usus buntu, alhamdullilah ini Asian Games pertama saya. Saya turun di kelas 85 kg karena saya change dengan senior saya (Rahmat Erwin Abdullah), dan memang jatahnya satu orang satu kelas dan akhirnya saya yang 85 kg," jelas Rizki saat ditemui di Wisma Serba Guna, GBK, Rabu (9/9/2026).
Kenaikan kelas bukan sekadar berpindah kategori. Rizki harus menambah berat badan sekaligus memastikan power yang dimiliki tetap bermanfaat saat bertanding melawan lawan-lawan yang lebih berat.
Saat ini bobot tubuhnya masih di angka 78 kg, belum mencapai target ideal 80 kg. Meski begitu, Rizki tidak ambil pusing dengan selisih tersebut.
"Jujur berat badan saya 78 kg, enggak nyampe 80 kg. Tapi tak masalah bagi saya, yang penting nanti pertandingan bisa maksimal dengan keadaan dan berat badan saya seperti ini," katanya.
Untuk mencapai kondisi ideal, Rizki mengaku harus ekstra disiplin dalam menjaga pola makan. Nutrisi dan asupan protein menjadi prioritas utama, diikuti latihan yang harus dijalani dengan intensitas penuh.
Rizki tidak menutup mata pada ketatnya persaingan di kelas barunya. Ia menyebut setidaknya ada lima negara yang berpotensi menjadi pesaing terberat: Korea Utara, China, Iran, Thailand, dan Korea Selatan.
Meski persaingan diprediksi sengit, lifter kelahiran Banten itu justru menjadikan statusnya sebagai peraih emas Olimpiade sebagai motivasi tambahan, bukan tekanan.
"Ya sebenarnya bukan beban bagi saya tapi motivasi untuk semangat bertanding karena buat apa dijadikan beban. Kalau beban saya akan jelek di pertandingan," ujarnya.
"Jadi saya tetap enjoy, walau negara menargetkan harus emas atau apa, lalu PB PABSI juga harus ini, yang penting saya enjoy dan jalan sendiri, dan berusaha yang terbaik buat Indonesia," pungkasnya.