SULAWESI SELATAN — Riset yang mengkaji lima sektor—energi, teknologi, pangan, kesehatan, hingga logam—menyoroti ironi besar di sektor kelistrikan. Indonesia memiliki potensi energi terbarukan mencapai 3.687 GW, tetapi realisasi pemanfaatannya masih di bawah 0,5 persen. Hambatan utamanya bukan sekadar teknologi, melainkan keterbatasan jaringan transmisi dan rendahnya bankability proyek.
Direktur Institutional Banking Group Bank DBS Indonesia, Anthonius Sehonamin, menegaskan bahwa keberlanjutan kini berkaitan erat dengan ketahanan usaha dan daya saing. "Pergeseran menuju bisnis yang lebih berkelanjutan tidak memiliki satu jalur yang sama di setiap sektor," ujarnya dalam diskusi di Jakarta, Kamis (20/8/2026).
Di sektor logam dan pertambangan, Indonesia menguasai sekitar 60 persen produksi nikel dunia dan naik ke peringkat ke-13 produsen baja terbesar pada 2025. Namun, hampir seluruh proses pemrosesan nikel—97 persen—masih bergantung pada pembangkit listrik tenaga batu bara (captive coal power). Kondisi ini menjadi tekanan tersendiri ketika standar global seperti EU CBAM dan Battery Regulation semakin ketat.
Peluang berikutnya justru bergeser ke hilir: komponen baterai, sistem penyimpanan energi (BESS), daur ulang, hingga produk logam rendah karbon. Sementara di sektor pangan, Indonesia yang memasok 60 persen sawit dunia kini tak bisa lagi mengandalkan perluasan lahan. Pertumbuhan bergantung pada replanting, peningkatan hasil panen, dan sertifikasi RSPO/NDPE.
Sektor kesehatan menghadapi tantangan struktural. Sekitar 90 persen bahan baku farmasi aktif (API) masih diimpor, dengan konsentrasi dari China (42 persen) dan India (11 persen). Meski BPJS Kesehatan telah mencakup 98,6 persen populasi, hanya sekitar 2 persen obat inovatif global yang masuk FORNAS. Rasio dokter spesialis juga masih tipis, 0,16 per 1.000 penduduk, jauh di bawah kisaran negara OECD yang mencapai 1,5–3,0.
DBS melihat peluang pada lokalisasi API secara selektif, penguatan manufaktur, diversifikasi pemasok, serta skema pembiayaan tambahan seperti copayment/KAPJ. Adapun di sektor teknologi, pertumbuhan telekomunikasi berbasis konektivitas melambat dari 9,69 persen (2015) menjadi 7,14 persen (Q1 2026). Nilai ekonomi digital justru naik dengan estimasi GMV mencapai US$99 miliar pada 2025, dan 79 persen pengguna Indonesia sudah mengenal AI.
Temuan riset ini menegaskan bahwa besarnya peluang keberlanjutan di suatu sektor tidak serta-merta membuat proyek layak dibiayai. Kesiapan proyek, profil risiko, kepastian arus kas, dan kompleksitas teknis menjadi penentu utama. Karena itu, Bank DBS Indonesia menekankan transformasi peran perbankan dari sekadar pemberi pinjaman menjadi mitra advisory yang memahami karakteristik tiap industri.
Pendekatan ini menjadi krusial mengingat kebutuhan elektrifikasi yang melonjak 6 kali lipat hingga 2060. Tanpa skema pembiayaan yang presisi, target transisi energi nasional berisiko menjadi wacana semata.