PLN Serahkan Pompa Air Listrik dan 20 Tandon ke Petani Sulut, Biaya Irigasi Dipangkas 50 Persen

Penulis: Ikhsan Maulana  •  Sabtu, 15 Agustus 2026 | 12:51:01 WIB
PLN menyerahkan bantuan pompa air listrik dan 20 tandon kepada Kelompok Tani Torout Jaya di Sulawesi Utara.

SULAWESI SELATAN — Ketergantungan petani pada mesin pompa BBM yang boros biaya dan rawan gangguan pasokan kini mulai diputus. PLN UID Suluttenggo menggelontorkan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) pilar Electrifying Agriculture untuk memodernisasi pengairan sawah dan ladang di Sulawesi Utara.

Bantuan ini bukan sekadar seremonial. Kelompok Tani Torout Jaya menerima paket lengkap yang dirancang agar produktivitas langsung naik: empat unit pengeboran air dan sumur bor, empat pasang sambungan listrik baru berdaya 3.500 VA, hingga tower tandon setinggi dua meter yang dicor agar kokoh. Semua instalasi sudah dilengkapi sertifikat laik operasi (SLO) dan Nomor Identitas Instalasi Tenaga Listrik (NIDI).

Mengapa Petani Butuh Listrik, Bukan BBM

General Manager PLN UID Suluttenggo, Usman Bangun, menegaskan bahwa sektor pertanian adalah tulang punggung ekonomi daerah. Namun, ia mengakui petani selama ini terjepit oleh tiga masalah besar: kekeringan saat musim kemarau, harga BBM yang fluktuatif, dan peralatan manual yang membatasi hasil panen.

"Peran kami tidak hanya menghadirkan terang listrik di rumah-rumah warga. Lebih dari itu, listrik harus menjadi motor penggerak roda perekonomian dan solusi atas tantangan nyata masyarakat," ujar Usman di Manado, Jumat.

Dengan pompa listrik, pengairan lahan tidak lagi bergantung pada harga solar atau bensin. Air bisa dialirkan secara konsisten dari sumur bor langsung ke titik-titik lahan jagung melalui selang HDPE sepanjang 1,4 kilometer. Hasilnya, waktu tanam bisa diserempakkan dan pengolahan lahan tidak lagi tertunda menunggu bahan bakar.

Dampak ke Kantong Petani dan Lapangan Kerja

Manager Komunikasi dan TJSL PLN UID Suluttenggo, Noven Koropit, menjelaskan efisiensi biaya yang diraih petani cukup signifikan. Penghematan energi hingga 50 persen dibanding mesin BBM membuat petani bisa mengalokasikan modal untuk kebutuhan produksi lain.

"Bantuan ini adalah amanah. Kami menitipkan seluruh sarana untuk dijaga dan dirawat secara gotong royong agar manfaatnya bisa dirasakan hingga generasi penerus," kata Noven.

Program ini menyasar langsung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) ke-8, yakni pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi. Ketika irigasi efisien, produksi jagung sebagai komoditas unggulan Sulut diproyeksikan melonjak. Panen yang melimpah berpotensi membuka lapangan kerja baru di sektor pascapanen dan distribusi, sekaligus menekan angka pengangguran di perdesaan.

Sinergi Menuju Kedaulatan Pangan

Langkah PLN ini sejalan dengan program pemerintah memperkuat ketahanan pangan nasional. Dengan menggandeng pemerintah daerah dan kelompok tani, elektrifikasi pertanian diharapkan menjadi model replikasi bagi daerah lain di Sulawesi.

Ke depan, PLN UID Suluttenggo berkomitmen memperluas program serupa, tidak hanya untuk irigasi tetapi juga pengolahan pascapanen. Semakin banyak sektor pertanian yang beralih ke listrik, semakin rendah biaya logistik pangan dan semakin stabil pasokan bahan pokok di pasar.

Reporter: Ikhsan Maulana
Sumber: manado.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top