SULAWESI SELATAN — Lonjakan valuasi ini disebut-sebut terkait dengan target pendapatan tahunan (annualized revenue run rate) perusahaan yang diproyeksikan menembus USD 1 miliar. Informasi ini dihimpun Bloomberg dari sumber yang dekat dengan proses negosiasi, meskipun Cognition belum memberikan konfirmasi resmi mengenai putaran pendanaan terbaru ini.
Kabar ini menjadi sinyal kuat betapa panasnya pasar kecerdasan buatan untuk pengembangan perangkat lunak, di mana investor berlomba mendanai pemain yang dianggap mampu mengubah cara kerja programmer.
Tiga bulan lalu, saat mengumumkan pendanaan sebelumnya, Cognition mengungkapkan pendapatan tahunan berjalan (annualized revenue run rate) mereka telah mencapai USD 492 juta. Angka ini tumbuh signifikan dalam waktu singkat, menunjukkan permintaan pasar yang tinggi.
Pertumbuhan ini tidak lepas dari adopsi Devin di kalangan korporasi. Perusahaan mencatat penggunaan Devin oleh klien enterprise meningkat 50% bulan-ke-bulan selama enam bulan terakhir. Sejumlah nama besar seperti Mercedes-Benz, NASA, dan Goldman Sachs dikabarkan telah menjadi pelanggan.
Scott Wu, salah satu pendiri sekaligus CEO Cognition yang dikenal sebagai programmer jenius, menegaskan bahwa Devin tidak diposisikan sebagai pengganti manusia. Produk ini dirancang untuk menangani pekerjaan "grunt-work" yang panjang dan membosankan, yang kerap tidak disukai para developer.
Tugas-tugas itu termasuk memperbarui perangkat lunak lawas (legacy system) atau memigrasikan aplikasi dari satu platform ke platform lain. Fokus pada pekerjaan "kuli" inilah yang diyakini menjadi alasan utama Devin diterima dengan baik di lingkungan enterprise, karena membantu tim teknis fokus pada pengembangan fitur yang lebih kompleks dan strategis.
Jika putaran pendanaan ini terealisasi, valuasi USD 40 miliar akan menempatkan Cognition di jajaran startup AI paling bernilai di dunia, sejajar dengan raksasa seperti OpenAI dan Anthropic. Ini juga menegaskan bahwa investor melihat potensi besar pada AI yang bekerja di balik layar untuk meningkatkan produktivitas, bukan sekadar chatbot.
Bagi pengembang perangkat lunak, kabar ini menjadi pertanda bahwa tren otomatisasi tugas-tugas repetitif akan semakin cepat. Meski bukan ancaman langsung, para developer perlu beradaptasi dan menguasai cara berkolaborasi dengan alat bantu berbasis AI untuk tetap relevan di industri.