SULAWESI SELATAN — Pasar valuta asing kembali memberikan tekanan berat bagi mata uang Garuda. Data Bloomberg mencatat rupiah di pasar spot ditutup melemah 106 poin ke Rp17.861 per dolar AS, sementara kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) ikut terkoreksi 0,16% ke posisi Rp17.824 per dolar AS.
Pelemahan ini terjadi di tengah sentiment negatif investor terhadap perlambatan optimisme konsumen domestik dan memanasnya kembali ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Analis Mata Uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa rilis data IKK Juli 2026 menjadi pemicu utama aksi jual rupiah. Berdasarkan survei BI, IKK melandai dari 117,8 pada Juni 2026 menjadi 116,8 pada Juli 2026. Level ini merupakan titik terendah sejak September 2025 yang berada di angka 115.
Jika ditarik lebih jauh, persepsi optimisme konsumen terhadap ekonomi telah tergerus signifikan. Dibandingkan posisi awal tahun yang mencapai 127, IKK Juli 2026 telah kehilangan 10,2 poin.
"Survei BI mencerminkan penurunan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun ekspektasi mereka terhadap kondisi ekonomi masa depan," ujar Ibrahim, Selasa (11/8/2026).
Selain faktor domestik, tekanan terhadap nilai tukar rupiah diperberat oleh kabar terbaru dari Timur Tengah. AS dan Iran saling menuntut kompensasi pascaserangan militer terbaru, yang pada akhirnya memupus harapan pasar akan kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Washington mengklaim jalur pelayaran vital tersebut tetap beroperasi, namun Teheran menyatakan telah memblokir kawasan perairan menggunakan ranjau dan pesawat nirawak (drone). Kondisi ini memicu lonjakan harga minyak mentah acuan Brent yang kembali mendekati level US$120 per barel.
Kenaikan harga komoditas energi ini menjadi sentimen negatif tambahan bagi negara pengimpor minyak seperti Indonesia, karena memperbesar risiko pelebaran defisit transaksi berjalan.
Memasuki perdagangan Rabu (12/8/2026), rupiah dibuka melanjutkan pelemahan tipis sebesar 7 poin atau 0,04% ke level Rp17.868 per dolar AS. Ibrahim memproyeksikan pergerakan mata uang garuda pada sesi ini bakal cenderung fluktuatif, dengan risiko ditutup melemah di rentang Rp17.860 hingga Rp17.970 per dolar AS.
Investor masih akan mencermati perkembangan geopolitik di Selat Hormuz dan potensi intervensi bank sentral untuk menahan laju depresiasi rupiah. Investasi mengandung risiko.