MAKASSAR — Dinas Kesehatan Kota Makassar mencatat realisasi penemuan kasus TBC baru mencapai 5.556 kasus dari target 9.030 kasus pada 2026, atau setara 61,53 persen. Angka ini menjadi dasar bagi pemkot untuk memperkuat skrining aktif lewat gerakan tracing yang diluncurkan di Kantor Kelurahan Antang, Selasa (11/8/2026).
Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar, dr. Nursaidah Sirajuddin, memaparkan bahwa terduga TBC yang telah tersaring baru mencapai 27.851 orang dari target 48.763 orang. Artinya, masih ada celah 42,89 persen warga yang belum terdeteksi dan berpotensi menjadi sumber penularan di lingkungan tempat tinggalnya.
Program tracing ini menyasar 339 titik yang tersebar di seluruh kecamatan se-Kota Makassar. Setiap titik ditargetkan menjaring 100 orang untuk menjalani pemeriksaan kesehatan secara gratis, baik melalui skrining gejala maupun pemeriksaan lanjutan di puskesmas.
Pelaksanaan dimulai dari Kecamatan Manggala dan akan berlangsung bertahap hingga November 2026. Jajaran camat, lurah, ketua RT/RW, serta kader kesehatan dilibatkan untuk melakukan pengawasan dan sosialisasi masif ke tingkat lingkungan.
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin mengimbau warga yang mengalami gejala seperti batuk berkepanjangan, demam, atau penurunan berat badan agar segera memeriksakan diri. Ia menekankan bahwa penyakit ini dapat disembuhkan jika ditangani sejak dini.
"Jangan takut dan jangan malu, TBC ini bukan aib, ini penyakit yang bisa disembuhkan. Kalau ada gejala, langsung datang secepatnya ke puskesmas," ujar Munafri dalam sambutannya.
Meski tingkat keberhasilan pengobatan pasien TBC di Makassar telah mencapai 82,40 persen, angka tersebut masih di bawah standar nasional minimal 90 persen. Dari total kasus terkonfirmasi, tercatat 4.578 pasien telah dinyatakan sembuh.
Untuk menutup kesenjangan tersebut, Dinkes Makassar akan memperkuat penelusuran kontak erat pasien serta pendampingan Pengawas Menelan Obat (PMO). Pemanfaatan teknologi komunikasi juga dimaksimalkan untuk memastikan pasien menjalani pengobatan hingga tuntas dan tidak putus di tengah jalan.
Keberhasilan program ini dinilai bergantung pada partisipasi aktif masyarakat dan koordinasi antarinstansi. Pemkot memastikan layanan pemeriksaan, pengobatan, hingga pendampingan diberikan secara gratis tanpa syarat administratif yang memberatkan.
Dengan cakupan 339 titik dan target 100 orang per lokasi, pemkot optimistis temuan kasus baru akan meningkat signifikan dalam empat bulan ke depan, sekaligus menekan angka penularan di lingkungan padat penduduk.