SULAWESI SELATAN — Duel bertajuk Super East Java Derby ini bukan sekadar perebutan tiket final. Ini adalah ajang pembuktian dua tim dengan sejarah panjang dan basis suporter fanatik. Stadion Kapten I Wayan Dipta di Gianyar dipilih sebagai lokasi netral demi alasan keamanan, mengingat rivalitas kedua kubu yang kerap memanas di luar lapangan.
Arema FC datang dengan status istimewa sebagai pemegang empat gelar Piala Presiden, menjadikan mereka tim paling sukses di turnamen ini. Pelatih kepala Arema FC, Marcos Santos, menegaskan timnya siap bertarung habis-habisan di panggung sebesar ini.
"Di mana pun tempatnya, kami harus memainkan pertandingan semifinal ini karena kami telah berjuang dan memenangkan tiket tersebut. Ini akan menjadi pertandingan besar, derbi terbesar di Indonesia," ujar Marcos Santos di situs resmi klub.
Namun, catatan perjalanan Singo Edan di fase grup tidak mulus. Mereka sempat tumbang 0-1 dari Persib Bandung di laga pembuka sebelum bangkit dengan kemenangan atas Tampines Rovers dan DPMM FC. Performa yang naik-turun ini menjadi pekerjaan rumah bagi sang pelatih.
Berbanding terbalik dengan Arema, Persebaya melaju mulus dengan rapor sempurna di Grup B. Anak asuh pelatih anyar itu sukses mengalahkan Persija Jakarta, PSMS Medan, dan juara bertahan Port FC. Dua kemenangan terakhir dengan skor tipis 1-0 menunjukkan soliditas pertahanan yang menjadi modal berharga.
Rekor pertemuan juga berpihak pada Bajul Ijo. Pada laga terakhir di Liga 1, Persebaya menghancurkan Arema FC dengan skor telak 4-0. Dari lima pertemuan terakhir, Persebaya unggul dengan dua kemenangan, sementara tiga laga lainnya berakhir imbang.
Persebaya diprediksi tetap memakai formasi 4-2-3-1 andalan dengan Alex Martins sebagai ujung tombak. Dukungan lini kedua dari Francisco Rivera dan Miguel Pereira akan menjadi kreator utama peluang. Sementara Arema FC di bawah arahan Marcos Santos kemungkinan mengandalkan trio lini depan Gabriel Silva, Gustavo Franca, dan Joel Vinicius.
Pertarungan di lini tengah antara Rahmat Irianto dan Matheus Blade akan menjadi penentu ritme permainan. Keduanya sama-sama agresif dalam merebut bola dan memulai serangan. Efektivitas memanfaatkan peluang menjadi kunci, mengingat laga tanpa penonton bisa menekan mental pemain muda di kedua kubu.
Dengan segala pertimbangan performa terkini dan rekor pertemuan, Persebaya sedikit diunggulkan. Namun, gengsi derbi seringkali menulis cerita berbeda di lapangan.