Pentagon Siapkan Drone Bomber Reusable 18 Lb, Uji Coba Gauntlet Oktober 2025

Penulis: Hendra Setiawan  •  Sabtu, 01 Agustus 2026 | 06:31:01 WIB
Pentagon membuka kompetisi prototipe drone bomber reusable seberat 55 pon yang dijadwalkan diuji coba pada Oktober 2025.

SULAWESI SELATAN — Kementerian Pertahanan Amerika Serikat membuka peluang baru bagi vendor drone untuk mengikuti kompetisi prototipe yang disebut Gauntlet pada Oktober mendatang. Program ini mencari pesawat nirawak yang bisa dipakai berulang kali untuk menjatuhkan bom, bukan sekadar drone satu arah seperti FPV yang banyak dipakai di medan perang saat ini.

Spesifikasi Drone Bomber yang Dicari Pentagon

Dalam Request for Solutions terbaru, drone yang dicari harus bisa dibawa personel atau diangkut kendaraan tempur ringan. Bobot kotor lepas landas maksimal 55 lb (sekitar 25 kg) di luar muatan, jauh lebih ringan dibanding bomber strategis seperti B-52.

Muatan yang diwajibkan lebih dari 8 kg dan harus kompatibel dengan amunisi mortir yang sudah ada di inventaris militer. Berbeda dengan drone FPV sekali pakai, sistem ini dituntut membawa beberapa hulu ledak sekaligus untuk mengenai target bergerak maupun diam, mulai dari personel musuh, kendaraan lapis baja ringan hingga berat, kapal permukaan, dan aset tempur lain yang butuh serangan presisi.

Ketahanan dan Automasi Jadi Syarat Utama

Drone yang dilengkapi fitur canggih diprediksi memberi hasil lebih baik daripada drone FPV sederhana yang dikendalikan manual dan bergantung pada input operator secara terus-menerus. Sistem reusable juga dinilai lebih andal karena dirancang bertahan untuk beberapa misi, bukan sekali pakai.

Spesifikasi teknis menyebutkan drone harus tetap beroperasi dalam cuaca buruk, kondisi pencahayaan berbeda, dan saat navigasi satelit atau komunikasi diganggu jamming elektronik. Pentagon juga meminta integrasi automasi tingkat lanjut seperti fungsi otonom dan pengenalan target otomatis untuk mengurangi beban kerja operator selama misi tempur.

Dokumen lelang menyatakan vendor harus menunjukkan kemampuan penargetan yang dirancang untuk meningkatkan efektivitas serangan, akurasi pengiriman, dan mengurangi beban kognitif operator selama penargetan. Pengujian akan melibatkan serangan terhadap drone bergerak dan diam, serta target bergerak dan diam di ketinggian berbeda.

Jadwal Kompetisi dan Nilai Kontrak

Vendor yang lolos tahap kualifikasi awal akan maju ke evaluasi kompetitif Gauntlet pada Oktober. Personel militer akan menilai sistem operasional lengkap, termasuk performa pesawat, mekanisme pelepasan muatan, peralatan kendali darat, dan perangkat pendukung lainnya.

Setelah penilaian selesai, Pentagon mengalokasikan sekitar USD 32 juta untuk kontrak prototipe awal yang mencakup hingga 1.200 sistem drone beserta paket logistik. Prototipe harus dikirim dalam lima bulan setelah pesanan diterima, dengan separuh dari total sistem wajib tiba dalam dua setengah bulan.

Program ini menjadi sinyal pergeseran strategi militer AS dari drone FPV sekali pakai ke platform yang bisa dipakai berulang untuk misi berulang. Bagi industri drone global, peluang ini membuka pasar baru untuk sistem persenjataan presisi berbiaya lebih terjangkau dibanding bomber konvensional.

Reporter: Hendra Setiawan
Sumber: techradar.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top