Kabupaten Gowa kini memiliki Rumah Hijau Denassa sebagai kawasan konservasi mandiri yang menjadi pusat edukasi lingkungan serta budaya bagi masyarakat Sulawesi Selatan. Area ini mengintegrasikan penyelamatan tanaman langka dengan penguatan literasi kearifan lokal melalui berbagai program pembelajaran luar ruangan.
GOWA — Kehadiran Rumah Hijau Denassa (RHD) di Kabupaten Gowa memperkuat ketersediaan ruang terbuka hijau sekaligus pusat pembelajaran ekosistem di Sulawesi Selatan. Kawasan ini tidak sekadar menjadi area konservasi tanaman, tetapi juga berfungsi sebagai wadah edukasi yang mempertemukan nilai-nilai lingkungan dengan tradisi masyarakat setempat.
Sebagai ruang edukasi, tempat ini menawarkan konsep belajar langsung di alam. Pengunjung dapat mengenal berbagai jenis flora yang mulai sulit ditemukan di pemukiman perkotaan, sembari memahami bagaimana masyarakat lokal terdahulu menjaga keseimbangan ekosistem melalui tradisi lisan dan kebiasaan sehari-hari.
Fokus utama dari tempat ini adalah penyelamatan berbagai spesies tanaman endemik dan langka. Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan generasi mendatang tetap dapat mengenali kekayaan hayati asli Sulawesi Selatan yang kini terancam oleh masifnya alih fungsi lahan di berbagai daerah.
Selain aspek botani, aspek budaya menjadi pilar penting dalam operasional kawasan ini. Literasi budaya disampaikan melalui pengenalan filosofi rumah tradisional dan penggunaan tanaman dalam ritual atau pengobatan tradisional suku Makassar dan Bugis, sehingga edukasi yang diberikan bersifat menyeluruh.
Pertumbuhan pembangunan infrastruktur di wilayah penyangga Makassar, seperti Gowa dan Maros, berdampak pada berkurangnya interaksi anak-anak dengan alam terbuka. Kondisi tersebut mendorong munculnya inisiatif ruang publik seperti Rumah Hijau Denassa untuk menjembatani celah pengetahuan tentang lingkungan hidup.
Melalui metode pembelajaran yang partisipatif, pengunjung diajak untuk menanam, merawat, dan memahami manfaat setiap pohon yang ada. Pendekatan ini dinilai lebih efektif dalam menumbuhkan kesadaran ekologis dibandingkan hanya mempelajari teori di dalam ruang kelas formal.
Ke depan, keberadaan ruang-ruang edukasi serupa diharapkan terus bertumbuh di kabupaten lain. Sinergi antara pelestarian budaya lokal dan perlindungan lingkungan hidup menjadi kunci utama dalam menjaga identitas daerah di tengah arus modernisasi yang cepat di Sulawesi Selatan.