Siswa Pinrang Pembobol NASA Pilih Kuliah di Teknik Informatika Unhas

Penulis: Hendra Setiawan  •  Rabu, 06 Mei 2026 | 14:56:40 WIB
Rektor Unhas Prof Jamaluddin Jompa umumkan jalur khusus bagi Rehan, siswa Pinrang pembobol NASA, untuk kuliah di Teknik Informatika.

MAKASSAR — Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) Prof Dr Jamaluddin Jompa memastikan institusinya telah mengamankan talenta muda asal Kabupaten Pinrang, Rehan, untuk melanjutkan studi di kampus merah. Keputusan ini diambil setelah siswa SMAN 8 Pinrang tersebut mendapatkan pengakuan resmi dari lembaga antariksa Amerika Serikat, NASA, atas kemampuannya mendeteksi celah keamanan siber.

Kepastian tersebut disampaikan Prof Jamaluddin Jompa di Makassar pada Rabu (20/11). Rehan diberikan keistimewaan berupa jalur bebas tes sebagai bentuk apresiasi atas capaiannya masuk dalam daftar Hall of Fame (HoF) NASA. Melalui skema ini, Unhas berupaya menjaga agar aset sumber daya manusia unggul dari Sulawesi Selatan tetap mendapatkan wadah pendidikan terbaik di daerah sendiri.

Fasilitas Jalur Khusus dan Peluang Double Degree

Pemberian golden ticket ini tidak hanya sebatas pembebasan ujian masuk. Unhas telah memetakan rencana pengembangan kapasitas bagi Rehan saat ia mulai berkuliah pada tahun akademik 2026/2027 di Fakultas Teknik. Kampus berjanji akan membuka akses strategis agar potensi Rehan di bidang teknologi informasi bisa bersaing di level global.

“Penghargaan ini bukan sekedar bentuk apresiasi, tetapi juga investasi bagi masa depan bangsa. Kami ingin memastikan talenta seperti Rehan mendapatkan ruang untuk tumbuh, belajar, dan berkontribusi dalam pengembangan teknologi,” jelas Prof Jamaluddin Jompa.

Rektor yang akrab disapa Prof JJ tersebut menambahkan, pihak universitas juga menyiapkan peluang program gelar ganda (double degree) di luar negeri. Hal ini dilakukan melalui kolaborasi internasional yang relevan dengan minat Rehan di bidang keamanan siber dan informatika, guna memastikan bakatnya terasah secara profesional.

Rekam Jejak Prestasi Rehan di Sistem Keamanan NASA

Nama Rehan mencuat setelah dirinya berhasil mengidentifikasi kerentanan (vulnerability) pada sistem National Aeronautics and Space Administration (NASA). Atas temuan tersebut, ia menerima surat pengakuan resmi dari otoritas antariksa tersebut, sebuah pencapaian langka bagi siswa setingkat SMA di Indonesia.

Capaian ini menjadi bukti bahwa penguasaan teknologi tingkat tinggi kini tidak lagi terhambat oleh batasan geografis. Rehan membuktikan bahwa siswa dari daerah seperti Pinrang mampu menembus standar keamanan organisasi paling prestisius di dunia hanya dengan ketekunan belajar secara mandiri.

“Unhas akan terus memfasilitasi minat dan bakat generasi muda. Anak-anak Indonesia memiliki mimpi besar, dan kami percaya mereka mampu menjadi pelopor di bidang informatika maupun bidang lainnya, serta mampu bersaing dengan negara lain,” tambah Prof JJ.

Inspirasi Belajar Otodidak di Tengah Keterbatasan

Kisah Rehan menarik perhatian publik karena kemampuannya yang lahir dari proses belajar otodidak. Meski menghadapi berbagai keterbatasan sarana dan faktor ekonomi, ia tetap konsisten mendalami bidang keamanan siber hingga mendapatkan pengakuan internasional. Hal ini diharapkan menjadi pemantik semangat bagi pelajar lain di pelosok Sulawesi Selatan.

Rehan sendiri menyampaikan rasa syukurnya atas apresiasi yang diberikan oleh pihak Unhas. Ia menegaskan komitmennya untuk terus memperdalam kapasitas diri di bidang teknologi informasi dan berharap teman-teman sebayanya tidak patah semangat dalam mengejar minat mereka.

“Untuk teman-teman, jika memiliki bakat, teruslah dikembangkan. Jangan pesimis hanya karena keterbatasan, termasuk faktor ekonomi,” tutur Rehan.

Langkah Unhas memberikan jalur khusus ini sekaligus menegaskan kebijakan institusi yang mulai memprioritaskan talenta-talenta non-akademik konvensional yang memiliki bukti prestasi nyata di lapangan. Kedepannya, skema serupa diharapkan dapat menjaring lebih banyak "mutiara" dari berbagai kabupaten di Sulawesi Selatan untuk mendapatkan pendidikan tinggi yang layak.

Reporter: Hendra Setiawan
Back to top