MAKASSAR — Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan melaporkan performa ekonomi daerah tetap kokoh pada awal tahun 2026. Berdasarkan data terbaru, nilai tambah bruto yang dihasilkan provinsi ini mencapai Rp191,28 triliun atas dasar harga berlaku.
Laju pertumbuhan ekonomi yang menyentuh angka 6,88 persen tersebut selaras dengan perbaikan indikator ketenagakerjaan. Hingga Februari 2026, jumlah penduduk yang bekerja di Sulawesi Selatan menembus 4,75 juta orang, atau bertambah sekitar 170,90 ribu orang dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kualitas lapangan kerja juga menunjukkan tren positif dengan dominasi pekerja penuh waktu yang kini mencapai 62,49 persen. Angka ini naik 5,05 persen poin dari tahun sebelumnya, menandakan pergeseran struktur kerja ke arah yang lebih stabil di wilayah tersebut.
"Tingkat setengah pengangguran juga mengalami penurunan dari 8,05 persen menjadi 6,17 persen. Hal ini mencerminkan aktivitas ekonomi yang kian produktif," ujar Kepala BPS Sulawesi Selatan, Aryanto, di Makassar, Rabu.
Menanggapi capaian tersebut, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menilai tren positif ini merupakan validasi atas kebijakan pembangunan yang tepat sasaran. Fokus pada sektor produktif diklaim menjadi kunci utama dalam menjaga momentum pertumbuhan di tengah dinamika ekonomi.
Kepala Biro Perekonomian dan Administrasi Pembangunan Setda Sulsel, Syamsul, menegaskan bahwa hasil ini adalah buah sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat luas.
“Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan yang mencapai 6,88 persen ini menunjukkan bahwa arah kebijakan pembangunan yang difokuskan pada sektor produktif dan penciptaan lapangan kerja mulai memberikan hasil nyata," tutur Syamsul.
Meski mencatatkan angka pertumbuhan tinggi, pemerintah daerah berkomitmen memastikan dampak ekonomi dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat. Program yang bersentuhan langsung dengan produktivitas warga akan terus diperkuat untuk menjaga stabilitas.
"Pemerintah Provinsi terus menjaga momentum ini agar pertumbuhan tetap berkualitas dan inklusif,” pungkasnya.
Selain merilis data pertumbuhan dan tenaga kerja, BPS juga memaparkan Indeks Ketimpangan Gender 2025 sebagai bagian dari evaluasi menyeluruh terhadap kualitas pembangunan manusia di Sulawesi Selatan.