Spesies Burung Estrilda Afrika Meledak di Spanyol Setelah 60 Tahun Menetap

Penulis: Wahyu Hidayat  •  Senin, 04 Mei 2026 | 18:06:05 WIB

Populasi burung Estrilda asal Afrika melonjak hingga sepuluh kali lipat di wilayah Spanyol akibat invasi tanaman liar dari Asia dan Amerika Selatan. Fenomena rantai invasi lintas benua ini menjadi peringatan bagi pengelolaan lahan di berbagai negara, termasuk risiko serupa pada ekosistem lokal Indonesia.

Sejarah invasi ini bermula pada tahun 1964 ketika sejumlah burung Estrilda dilepaskan di Portugal. Dalam waktu kurang dari satu dekade, burung kecil oportunis asal Afrika sub-Sahara ini mulai menyebar ke wilayah Extremadura dan Andalusia, Spanyol. Memasuki era 1980-an, keberadaan mereka telah mencapai pesisir timur Semenanjung Iberia.

Selama 60 tahun, Estrilda hidup berdampingan dengan fauna lokal tanpa menunjukkan pertumbuhan populasi yang mengkhawatirkan. Namun, situasi berubah drastis dalam 15 tahun terakhir. Data terbaru menunjukkan populasi Estrilda di Valencia melonjak 10 kali lipat, sementara di wilayah Catalonia jumlahnya meningkat hingga tiga kali lipat.

Kolaborasi Tiga Spesies Invasif Lintas Benua

Ledakan populasi ini memicu tanda tanya besar di kalangan peneliti. Hasil observasi mengungkap bahwa kunci keberhasilan Estrilda bukan terletak pada kemampuannya beradaptasi sendiri, melainkan dukungan dari dua spesies invasif lainnya. Fenomena ini menciptakan rantai invasi yang kompleks di tanah Eropa.

Perubahan tata guna lahan menjadi pemicu utama. Saat ini, satu dari lima petak lahan pertanian di Spanyol dibiarkan tidak tergarap. Lahan kosong ini menjadi tempat tumbuh ideal bagi dua tanaman eksotis: tebu umum (caña común) dan rumput Pampa (plumero de la Pampa). Kombinasi flora dan fauna dari tiga benua berbeda kini menguasai ekosistem tersebut:

  • Estrilda (Afrika): Burung oportunis yang mencari habitat baru.
  • Tebu Umum (Asia): Tanaman yang menyediakan struktur perlindungan kokoh.
  • Rumput Pampa (Amerika Selatan): Flora yang menawarkan tempat bertengger dan perlindungan dari predator.

Bukan Sumber Makanan, Melainkan Infrastruktur

Para peneliti menegaskan bahwa burung Estrilda tidak mengonsumsi tanaman-tanaman invasif tersebut. Hubungan yang terjadi murni bersifat struktural. Tanaman dari Asia dan Amerika Selatan itu menyediakan tempat berteduh, lokasi tidur, dan struktur sarang yang jauh lebih baik dibandingkan vegetasi asli Spanyol.

Kondisi wilayah yang sebelumnya dianggap tidak ramah bagi Estrilda kini berubah menjadi habitat ideal berkat kehadiran "infrastruktur" alami dari tanaman asing tersebut. Para ahli ekologi menyatakan kekhawatirannya bukan pada keberadaan burung itu sendiri, melainkan pada bagaimana spesies invasif dapat saling mendukung untuk mendominasi sebuah wilayah.

Pelajaran bagi Pengelolaan Lahan di Indonesia

Fenomena di Spanyol memberikan perspektif penting bagi Indonesia yang juga menghadapi tantangan spesies invasif seperti eceng gondok atau keong mas. Transformasi lahan pertanian yang terbengkalai terbukti mampu mengubah keseimbangan ekosistem secara permanen melalui efek domino biologis.

Kejadian ini menunjukkan bahwa flora dan fauna memiliki logika penyebaran yang seringkali sulit diprediksi secara mendalam. Pengelolaan lahan secara terintegrasi menjadi satu-satunya solusi untuk mencegah munculnya masalah lingkungan yang lebih besar di masa depan. Tanpa intervensi manusia dalam merawat bentang alam, spesies asing akan terus menemukan celah untuk mengambil alih fungsi ekosistem lokal.

Saat ini, otoritas lingkungan di Spanyol mulai mengkaji ulang strategi manajemen wilayah pedesaan mereka. Fokus utamanya adalah memutus rantai dukungan antar spesies asing tersebut sebelum dampak kerusakan terhadap keanekaragaman hayati asli menjadi tidak terkendali.

Reporter: Wahyu Hidayat
Back to top