SULAWESI SELATAN — Populasi kendaraan listrik di Indonesia terus bertambah, namun infrastruktur pendukung belum merata. Salah satu yang jadi sorotan adalah stabilitas pasokan listrik di rumah-rumah konsumen.
Belakangan, pemadaman listrik oleh PLN terjadi di beberapa daerah. Kondisi ini langsung menimbulkan pertanyaan bagi pemilik mobil listrik: apakah charger bisa rusak atau performa pengisian dayanya menurun drastis?
Peneliti Senior Pusat Sistem Transportasi Berkelanjutan Institut Teknologi Bandung (ITB) Agus Purwadi menjelaskan, charger AC yang digunakan umumnya bawaan pabrik dan sudah terintegrasi dengan Battery Management System (BMS).
"Jadi dia pasti akan mengatur chargernya itu. Tapi kalau tegangannya tidak stabil, terlalu lebar, ya cukup berdampak juga," ujar Agus kepada Kompas.com, belum lama ini.
BMS memang dirancang untuk melindungi baterai dari arus listrik yang tidak wajar. Namun, bukan berarti komponen elektrikal mobil listrik kebal terhadap fluktuasi arus. Masalah utama muncul saat listrik sering mati-nyala, yaitu ketidakstabilan tegangan atau voltage surge dan drop.
Setiap pabrikan sudah menetapkan ambang batas aman pada perangkat pengisian daya. Jika fluktuasi listrik di rumah melebihi batas tersebut, sistem otomatis memutus arus atau menurunkan kinerja demi melindungi sel baterai.
"Karena dia punya range tegangan. Persentase yang ditoleransi, misalnya plus minus 10 persen. Kalau di atas itu, performancenya akan terganggu," kata Agus.
Masyarakat tidak perlu panik bahwa charger akan rusak seketika saat listrik padam. Di dalam perangkat pengisian daya, ada algoritma pintar yang menyesuaikan diri dengan kondisi arus listrik yang masuk.
Agus menjelaskan, charger mobil listrik memiliki tiga karakter kontrol utama. Pertama, power constant yang menjaga daya tetap stabil. Kedua, current constant yang mengatur arus listrik. Ketiga, voltage constant yang mengendalikan tegangan.
Ketiga kontrol itu bekerja menjaga proses pengisian daya tetap dalam koridor aman. Meski teknologi ini mampu meminimalisasi risiko kerusakan total seperti korsleting, Agus kembali mengingatkan bahwa performa pengisian daya tetap akan dikorbankan jika kualitas listrik dari penyedia daya lokal tidak kunjung stabil.
"Mereka semua punya toleransi. Kalau toleransinya terlalu lebar, pasti akan berpengaruh terhadap performance charging-nya," pungkas Agus.