SULAWESI SELATAN — Rupiah dibuka di level Rp17.489 per dolar AS, melemah 75 poin atau 0,43 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Tekanan berlanjut dan memperdalam koreksi hingga menembus batas Rp17.500, level yang terakhir kali disentuh saat gejolak pasar global beberapa waktu lalu.
Pelemahan rupiah tidak berdiri sendiri. Hampir seluruh mata uang regional terdepresiasi terhadap dolar AS pada pagi ini. Won Korea Selatan menjadi yang terburuk dengan anjlok 1 persen, diikuti peso Filipina yang melemah 0,50 persen.
Ringgit Malaysia terdepresiasi 0,22 persen, yen Jepang melemah 0,22 persen, dan dolar Singapura turun 0,20 persen. Yuan China juga ikut melemah 0,01 persen. Satu-satunya yang menguat adalah dolar Hong Kong, meski hanya 0,01 persen. Mata uang utama negara maju seperti euro dan poundsterling juga tertekan terhadap greenback.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengidentifikasi setidaknya tiga sentimen negatif yang membebani rupiah. Pertama, meredupnya harapan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran kembali memicu ketidakpastian geopolitik. Kedua, harga minyak mentah dunia yang masih tinggi terus membebani negara pengimpor energi seperti Indonesia.
"Harga minyak yang tinggi menambah beban defisit transaksi berjalan dan menekan mata uang negara berkembang," jelas Lukman kepada CNNIndonesia.com.
Ketiga, pengumuman MSCI yang diperkirakan tidak akan memberikan kabar positif bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). "Pengumuman MSCI hari ini diperkirakan tidak akan memberikan berita baik pada IHSG, dan akan ikut menekan rupiah," ujar Lukman. Investor juga disebut tengah menantikan data penjualan ritel Indonesia yang akan dirilis siang ini.
Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.350 hingga Rp17.500 per dolar AS sepanjang perdagangan hari ini. Level Rp17.500 kini menjadi resistance psikologis yang krusial. Jika tekanan berlanjut, bukan tidak mungkin rupiah kembali menguji level terendah yang pernah dicatatkan sebelumnya.
Investor dan pelaku pasar disarankan mencermati data penjualan ritel yang akan dirilis. Angka yang lebih rendah dari ekspektasi berpotensi memperberat tekanan terhadap rupiah. Sebaliknya, data yang solid bisa memberikan sedikit ruang napas bagi mata uang Garuda di tengah dominasi dolar AS yang masih perkasa.